Jumat, 11 Mei 2012

Teori Keprinadian Allport

Pada dasarnya setiap manusia memilki kepribadian yang berbeda anatara yang satu dengan yang lain. Pengertian kepribadian secara umum ini adalah tentang perilaku yang ada dalam diri seseorang dan mempunyai karakteristik / watak tersendiri dalam kehidupannya. Dalam ilmu Psikologi, kepribadian dapat diartikan sebagai suatu studi empiris yang terus-menerus, dengan maksud bagaimana kita mengerti pola tingkah laku manusia, bukan untuk digeneralisasi, tapi untuk mengetahui sejauh mana orang itu berbeda satu dengan yang lain.
Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan dengan banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya. Dalam pembahasan kajian / materi tentang teori kepribadian ( Goldon Allport 1897-1967 ) dapat dipelajari sebagai berikut.
A. KEPRIBADIAN, WATAK DAN TEMPERAMENT
a. Kepribadian
Goldon Allport adalah ahli teori kepribadian pertama yang mempelajari orang-orang dewasa yang matang dan normal dan bukan orang-orang yang neurotis, sehingga dia mengembangkan suatu teori yang hampir seluruhnya mengenai kepribadian yang sehat. Allport mengemukakan adanya pemisahan fungsional antara anak dan orang dewasa yang sehat. Menurutnya pengaruh masa kanak-kanak dapat menyebabkan perbedaan antara neurosis dan kesehatan psikologis yakni kepribadian yang sehat yang segera setelah terbentuk, bebas dari masa lampau.
Jadi kesehatan psikilogis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke belakang. Pandangannya adalah kepada apa yang diharapkan orang itu untuk menjadi, dan bukan kepada apa yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah. Allport juga mengungkapkan pentingnya peningkatan dan bukan pengurangan tingkat tegangan.
Untuk definisi kepribadian yang detail menurut Allport adalah suatu organisasi dinamis dari sistem psikofisis individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.
 Dalam teori Allport antisipasi-antisipasi adalah penting dalam membantu kita untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita. Selain tentang kesehatan mental Allport berpendapat bahwa kepribadian-kepribadian sehat terarah kepada orang lain, jadi orang yang matang terlibat secara aktif dan terikat pada sesuatu atau seseorang diluar diri.
 Allport juga mengungkapkan bahwa orang yang sehat dapat mencintai dan memperluas dirinya kedalam hubungan yang penuh perhatian dengan orang-orang lain, pertumbuhan dan pemenuhan orang lain sama pentingnya dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri. Inilah orang-orang yang sangat realistis, mereka mengetahui diri mereka dan menerima keterbatasan-keterbatasan mereka dan tidak terpukul oleh keterbatasan-keterbatasan itu. Jadi, orang-orang yang matang mengetahui diri mereka siapa dan karena itu mereka aman dalam hubungan mereka dengan diri mereka dan dengan dunia sekitar mereka.
b. Watak ( character )
Walaupun istilah kepribadian dan watak sering digunakan secara bertukar-tukar, namun Allport menunjukkan, bahwa biasanya kata watak menunjukkan arti normatif, serta menyatakan bahwa watak adalah pengertian ethis dan menyatakan, bahwa ”character is personality evaluated, and personality is character devaluated”. (Watak adalah kepribadian dinilai, dan kepribadian adalah watak tak dinilai).
c. Tempramen
Bagi allport temperament adalah bagian khusus dari kepribadian dengan maksud yaitu suatu gejala karakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitet kekuatan suasana hatinya, dan gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan.
B. SIFAT, SIKAP DAN TYPE
a. Sifat ( Trait )
Pengertian sifat dapat diartikan sebagai sistem neurophysis yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara sama, dan memulia serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresi secara sama. Yang dicatat mengenai definisi ini ialah tekanan terhadap individual dan kesimpulan bahwa kecendrungan itu tidak hanya terikat kepada sejumlah kecil perangsang atau reaksi, melainkan dengan seluruh pribadi manusia. Pernyataan “neurophychic system” menunjukkan jawaban affirmatif yang diberikan oleh Allport terhadap pertanyaan apakah “trait” itu benar-benar ada pada individu.
Allport menjelaskan ciri dari trait adalah sebagai berikut :
1. Nyata, bukan konsep abstrak tetapi konsep nyata
2. Membuat banyak stimuli berfungsi ekuivalen, trait telah menetapkan orang untuk memendang berbagai stimulus memiliki makna yang sama dan merespon stimuli itu dengan tingkah laku yang mirip.
3. Mengubah atau menentukan tingkah laku, trait muncul bukan hanya kalau ada stimulus melainkan bisa menggerakkan tingkah laku dan mencari stimulus yang sesuai dengan ekspresi trait.
4. Empirik, dapat dibuktikan
5. Kemandirian yang relatif
Allport membedakan Sifat (trait) menjadi dua yakni sifat-sifat umum dan sifat-sifat individual.
1. Sifat umum, sifat yang dimiliki bersama oleh banyak orang, dipakai untuk membedakan orang dari latar belakang budaya yang berbeda.
2. Sifat individual, sifat yang secara unik ada pada masing-masing individu
Suatu hal yang amat penting dalam mempelajari teori Allport ini ialah berusaha mengerti mengenai perbedaan antara sifat-sifat umum dan sifat-sifat individual. Dia menyatakan, bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua individu mempunyai sifat yang benar-benar sama.
Bahwa suatu sifat-sifat itu merupakan predisposisi-predisposisi umum bagi tingkah laku. Ada satu soal lagi mengenai hal ini, yaitu apakah semua sifat itu pada pokoknya mempunyai taraf keumuman yang sama, dan apabila tidak bagaimanakah cara membeda-bedakan taraf itu. Allport membeda-bedakan antara sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder :
(1) Sifat Pokok
Sifat pokok ini demikian menonjolnya sehingga hanya sedikit saja kegiatan-kegiatan yang tak dapat dicari baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa kegiatan itu berlangsung karena pengaruhnya. Tidak ada sifat semacam itu yang lama tersembunyi, individu dikenal dengan sifat itu, dan bahkan mungkin menjadi terkenal dalam sifat itu. Kualitas yang demikian dominan pada individu itu sering disebut the intesif trait, the ruling passion, atau the radix of live. Maka sifat ini relatif kurang biasa dan kurang menampak pada tiap orang. Contohnya Orang Narsistik adalah orang yang memberikan perhatian kuat dan terus-menerus pada kebutuhan dan ketertarukannya.
(2) Sifat Sentral ( central trait )
Sifat sentral ini lebih khas, dan yang merupakan kecendrungan-kecendrungan individu yang sangat khas/karakteristik, sering berfungsi dan mudah ditandai.misalkan orang introspektif, obsesif, melankolis, dramatik.
(3) Sifat Sekunder ( secundary trait )
Sifat sekunder ini nampaknya berfungsi lebih terbatas, kurang menentukan didalam deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat (khusus) response-response yang didasarinya serta perangsang-perangsang yang dicocokinya. Misalnya Seseorang yang menyenangkan, mungkin meledak marah ketika seseorang menghina kelompoknya.

b. Sikap ( atitudes )
Bagi Allport sifat dan sikap adalah predisposisi untuk berespond, kedua-duanya khas, kedua-duanya memulai dan membimbing tingkah laku. Keduanya adalah hasil dari faktor genetis dan belajar.
Namun ada juga perbedaan diantara keduanya :
1.Sikap (aatitude) itu berhubungan dengan sesuatu obyek atau sekelompok obyek, sedangkan sifat tidak. Jadi sifat umum daripada trait hampir selalu lebih besar/luas dari pada sikap, dalam kenyataannya makin besar jumlah obyek yang dikenai sikap itu, maka sikap makin mirip kepada sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus kelebih umum, tetapi kalau sifat selalu umum.
2.Sikap biasanya memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi, sedangkan sifat tidak.
c. Type
Alport membedakan antara sifat dan type. Menurut Allport orang dapat memiliki sifat tetapi tidak semua type. Type adalah konstruksi ideal si pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan konsekuensi diabaikan sifat-sifat khas individualinya. Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi sedangkan type malah menyembunyikannya. Jadi bagi Allport, type menunjukkan perbedaan-perbedaan buatan yang begitu sama dengan kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang benar-benar ada.
C. ORANG YANG MATANG MODEL ALLPORT
Salah satu pendekatan yanng berguna terhadap terhadap pemahaman psikologis Allport mengemukakan tema–tema pokok dari teori kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema–tema itu berbeda dari apa yang didapat pada Freud. Tema–tema tersebut adalah :
a) Allport tidak percaya bahwa orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan–kekuatan tak sadar yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi, tidak didorong oleh konflik tak sadar. Begitu pula dengan tingkah laku mereka, tidak ditentukan oleh hal atau kejadian yang ada di jauh dalam pandangan. Kekuatan-kekutan tak sadar itu hanya memepengaruhi orang yang neurotis. Individu yang sehat dan yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing mereka, serta dapat mengontrol kekuatan–kekuatan itu
b) Kepribadian yan matang tidak dikontrol oleh taruma dan konflik masa kanak– kanak. Orang yang sehat dibimbing dan diarahkan pada masa sekarang, oleh intensi dan aspirasi – aspirasi masa depan, berpandangan optimis, tidak kembali pada msa lalu.
c) Antara orang yang sehat dan orang neurotis tidak ada kesamaan secara fungsional. Dalam pandangan Allport orang yang neurotis berada pada kehidupan konflik dan pengalaman anak–anak, sedangakan ornag yang sehat befungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebh tinggi.
d) Allport lebih memfokuskan mempelajari orang dewasa yang matang (berlawanan dengan tokoh psikologi yang lain) yang lebih fokus pada orang neurotis. Karena itu dapat dikatakan bahwa sistem dari Allport hanya berorientasi pada kesehatan.
D. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Allport mengakui bahwa masa kanak-kanak mempunyai andil dalam mewujudkan pribadi yang sehat, hanya saja hubungan itu tidak bersifat fungsional yang berkesinambungan. Menurut Allport peranan orang tua (ibu) mempengaruhi perkembangan proprium anak. Jika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup, perasaan aman, akan menumbuhkan identitas diri dan diri akan meluas.
Demikian pula jika seorang anak yang dibesarkan dalam kondisi tidak aman, agresif, penuh tuntutan, egosentris, pertumbuhan psikologisnya berkurang. Sebagai seorang dewasa, orang itu akan dikontrol oleh dorongan masa kanak – kanak dan oleh keinginan dan konflik dan mungkin mengembangakan suatu bentuk sakit jiwa.
Dalam Perkembangan kepribadian / Proprium Allport membagi dalam beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:
Proprium adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan ego. Proprium menggambarkan ego sebagai sesuatu yang dengan segera dapat kita sadari meliputi perasaan jasmaniah, identitas diri, harga diri, rasa keakuan, gambaran diri. Proprium tidak dibawa sejak lahir melainkan berkembang karena perkembangan individu. Allport menghindari ego sebagai penggerak utama kepribadian.
1. Pada tiga tahun pertama ( 0-3 tahun ) terdapat tiga aspek, yaitu ;
a) Sense of bodily self (diri fisik / jasmaniah).
Kita dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri, ; perasaan tentang diri bukan merupakan bagian dari warisan keturunan. Seiring bertambahnya kompleksnya beajar dan pengalam maka berkembanag suatu perbedaan yang kabur antara benda yanga ada pada diri sendiri denga hal lain
b) Sense of continuing self identity (identitas diri yang berkesinambungan).
Pada tahap ini seorang anak mulai menyadari akan identitasnya sebagai sesuatu terpisah dengan yang lain. Anak mengenal nama, dan menyadari bahwa hari ini merupakan bayangan kita di hari sebelumnya. Menurut Allport nama seseorang memegang peranan penting dalam identitas diri, karena merupakan lambangdari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan memebedakan dirinya dengan orang lain
c) Self esteem atau pride (bangga).
Harga diri ini mencakup perasaan bangga anak sebagau suatu hasil dari belajar dan mengerjakan tugan atas usahanya sendiri. Pada tahap in i minat anak untuk mengeksplor dunia cenderungn meningkat, sense of knowledge yang tinggi. Allport myakini bahawa masa ini merupakan masa penentu, jika orang tua terlalau menghalangi kebutuhan anak, maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Inti dari harga diri ini ialah hak untuk otonom.
2. Perkembangan proprium pada usia 4- 6 tahun mencakup ;
a) Extension of self (perluasan diri).
Pada tahap ini anak mulai menyadari orang laian dalam lingkungan serta fakta bahwa beberapa diantaranya adalah miliknya. Anak mempelajari arti dan nilai dari milik seperti terungkap dalam kata ” bagus sekali punyaku ”. Tahap ini merupakan permulaan dari kemampuan seseorang untuk memperpanjang dan memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda tapi juga abstraksi, nilai, dan kepercayaan.
b) Self image (gambaran diri).
Tahap ini menunjukkan bagaimana seorang anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi antara orang tua dan anak. Melalaui pujian dan hukuman anak belajar bahwa orang tuanya mengharapkan untuk melakukan perbuatan atau tingkah laku tertentu. Dengan mempelajari harapan orang tua, anak mengembangkan dasar perasaan tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan hidup dan intensi.
3. Perkembangan proprium usia 6-12 tahun meliputi ;
a) Self as rational coper (penguasaan rasional).
Tahap ini muncul ketika anak mulai bersekolah. Segala aturan dan harapan baru dipelajari dari guru, teman sekolah serta aktivitas yang diberikan dan tantangan intelektual. Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalah dengan menggunakan proses yang logis dan rasional
4. Perkembangan proprium usia remaja meliputi ;
a) Propriate striving (berusaha memilki).
Tahap ini ada ketika berada dalam masa adolensi. Allport percaa bahwa masa adolensi merupakan masa yanga sangat menentukan. Pertanyaan ” who am I ”, adalah pertanyaan yang biasanya muncul. Karena didorong dan ditarik dalam arah-arah berbeda oleh orang tua dan teman sebaya, anak remaja itu mengadakan percobaan dengan kedok dan peranan, menguji gambaran diri, berusaha menemukan suatu kepribadian orang dewasa. Segi yang sangat penting dari pencarian identitas diri adalah definisi tujuan hidup.
5. Perkembangan proprium usia dewasa meliputi ;
a) Diri sebagai si tahu (self as knower) cakupan menyaluruh aspek, kesadaran tentang diri sendiri.
Tahap – tahap perkembangan proprium di atas berkembang dari masa bayi sampai masa adolensi. Kegagalan atau kekecewaan yang terjadi pada salah satu tahap akan berakibat pada tahap yang selanjutnya. Dengan demikian pengalaman masa kanak-kanak mempunyai peranan penting dalam mewujudkan pribadi sehat
E. PEMAHAMAN KRITERIA KEPRIBADIAN YANG MATANG ( SEHAT )
1. Perluasan Perasaan Diri.
Orang yang matang adalah mereka yang mengembangakan perhatian di luar dirinya. Tidak hanya sekedar berinteraksi dengan sesuatu di luar dirinya, namun ia akan berpartisipasi penuh dan total ” partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia ”.
Aktivitas yang dimaksud oleh Allpport adalah yang relevan bagi diri, meningkatkan kemampuan, dan membuat kita enjoy melakukannya. Kesehatan psikologis seseorang berbanding lurus dengan peranannya terhadap aktivitas yang dilakukkan.
2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang Lain
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan cinta terhadap orang tua, teman, dan anak . Terdapat perbedaan antara cinta orang yang neurosis dan cinta dari pribadi yang sehat. Orang yang neurosis harus menerima cinta lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya, dan syarat akan kewajiban. Sedangkan cinta dari pribadi yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan, sabar terhadap tingkah laku orang lain, serta tidak mengadili atau menghukumnya
3. Keamanan Emosional
Kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi yang terdapat pada mereka, termasuk segala kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif. Orang yang sehat mampu hidup dengan segi lain dalam kodratnya, dengan memilki sedikit konflik, baik dengan diri sendiri terlebih dengan masyarakat.
Kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi – memosi manusia; bukan tawanan dari rasa emosinya. Mereka juga mampu mengontrol emosi, sehingga tidak mengganggu aktivitas antar pribadi.
Kualitas lain dari keamana emosional adalah ” sabar terhadap kekecewaan ”. Orang yang sehat akan sabar dalam menghadapi kemunduran, tidak menyerah pada kekecewaan, melainkan mampu memikirkan jalan keluar untuk mencapai tujuan.
4. Persepsi realistis
Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Mereka tidak memepercaYai bahwa orang di luar dirinya dan lingkungan bersikap kurang bersahabat atau semuanya baik menurut prasangka pribadi terhadap realitas.
5. Keterampilan dan Tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan keterampilan dan bakat tertentu. Menurt Allport orang yang sehat tidak akan tidak mengarahkan keterampilan pada pekerjaan. Komitmen pada orang sehat begitu kuat sehingga mengantarkan mereka pada kesanggupan menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan ketika terbenamdalam pekerjaan
Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas hidup. Kematangan dan kesehatan psikologis tidak akan tercapai tanpa melakaukan aktivitas yang penting dan melakukannya dengan penuh dedikasi, komitmen, dan keterampilan – keterampilan
6. Pemahaman Diri
Usaha untuk memahami diri secara obyektif mulai pada awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri (self-objectification) tertentu yang berguna dalam setiap usia. Tentunya kepribadian yang sehat akan mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis.
Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang lain. Biasanya orang seperti ini akan diterima dengan lebih baik oleh orang lain. Allport mengatakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.
7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang yang sehat tentunya akan melihat ke depan, yang didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Menurut Allport, dorongan yang mempersatukan adalah arah (directness), dan lebih terlihat pada kepribadian yang sehat daripada orang yang neorotis. Arah akan membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan seseorang alasan untuk hidup.
Kerangka untuk tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai-nilai. Menurut Allport nilai-nilai sangat penting bagi perkembangan suatu filsafah hidup yang mempersatukan. Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafah hidup yang mempersatukan. Allport berpendapat bahwa, terdapat perbedaan antara suara hati yang matang dan suara hati yang tida matang atau neurotis. Suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab terhadao diri sendiri dan kepada orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis, sedangkan suara hati yang tidak matang sama seperti sura hati kanak-kanak yang patuh dan membudak, penuh dengan pembatasan dan larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak kedalam masa dewasa.
F. APLIKASI TEORI ALLPORT DALAM BK
Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya ( konselee ). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup konseleenya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan konseleenya.
Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian individu, konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian konseleenya. Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.
G. BEBERAPA CATATAN MENGENAI ALLPORT
Untuk beberapa catatan atau kekurangan dalam teori Allport, yaitu :
 Kekurangan Allport pada persamaan formal sehingga tidak memadai untuk banyak penelitian.
 Gagal menunjukkan konsep pokok yaitu fungsi otonomi, mengasumsikan adanya diskontinuitas antara hewan-manusia, masa kanak-kanak dan dewasa, normal dan abnormal, menekankan keunikan kepribadian, memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada pengaruh sosial, dan faktor situasioanal.
 Selalu menggambarkan manusia pada gambaran terlalu positif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar